Wednesday, September 9, 2009

Puasa Bagi Ibu Hamil dan Menyusui


Oleh: Aritha Pandia, S.Si,Apt
BULAN Ramadhan telah tiba. Bulan penuh ibadah bagi umat muslim di dunia. Salah satu ibadah yang wajib dilakukan setiap muslim yang telah baligh (cukup umur) adalah berpuasa.

Nah, bagaimana dengan ibu hamil dan menyusui? Puasa Ramadhan hukumnya tetap wajib bagi ibu hamil dan menyusui.

Wanita yang sedang hamil atau menyusui tetap harus berpuasa di bulan Ramadhan, sama dengan wanita-wanita yang lain, selagi ia mampu untuk melakukannya. Seorang wanita hamil tidak diperbolehkan berpuasa jika kehamilannya bermasalah. Memaksakan berpuasa hanya akan mengganggu perkembangan janin. Namun bagi ibu hamil yang ingin berpuasa disarankan untuk memperhatikan gejala berkurangnya kadar gula dalam darah (hipoglikemia). Gejala ini ditandai dengan pusing, gemetar, mual, dan demam.


Jika hal ini dialami oleh wanita hamil maka sebaiknya jangan melakukan puasa karena dikhawatirkan mengganggu janin dan wanita hamil itu sendiri. Begitu juga pada ibu hamil yang menderita Diabetes Melitus (DM) dan Hipertensi, sebaiknya tidak berpuasa karena penderitanya harus terus menerus mengonsumsi obat secara teratur. Selanjutnya bagi ibu hamil yang mengalami gangguan saluran pencernaan, atau yang memiliki riwayat anoreksia dan bulimia (gampang muntah), juga tidak diperkenankan berpuasa.

Secara medis wanita hamil yang bisa melaksanakan puasa adalah ibu yang masa kehamilan sudah cukup tua dan kuat yaitu sekitar usia kehamilan 4 bulan ke atas. Pada usia kehamilan dengan kisaran antara empat sampai tujuh bulan, puasa tidak akan berpengaruh apa-apa. Sebab pada masa itu biasanya kondisi kesehatan sang ibu sudah dalam taraf penyesuaian.

Masalahnya akan lain bila masa kehamilannya masih muda atau pada trimester pertama kehamilan. Pada masa ini biasanya si ibu hamil sering merasa mual-mual dan terkadang berlanjut dengan muntah. Karena kondisi kesehatannya tak memungkinkan, maka ibu hamil terpaksa tidak berpuasa.

Sebetulnya kalau daya tahan sang ibu kuat tidak ada masalah. Namun sebaiknya janganlah memaksakan diri untuk berpuasa karena pengaruhnya memang tidak terjadi langsung pada janin, akan tetapi pada si ibu hamil itu sendiri. Misalnya akan terjadi kekurangan cairan di dalam tubuh karena sering keluar lewat muntah. Yang jelas lihat dulu kondisi kesehatan ibu hamil tersebut jika ingin berpuasa.

Hukum Islam pun menganjurkan bahwa jika dalam keadaan sakit diperbolehkan tidak berpuasa. Tapi, akan lebih baik lagi jika ini dikonsultasikan dengan dokter kandungan langganannya.

Bayi yang ada dalam kandungan tidak terpengaruh secara langsung berkaitan dengan perubahan pola makan yang dilakukan sang ibu. Sebab bayi yang berada dalam kandungan mendapat asupan makanan dari plasenta atau ari-ari lewat aliran darah dan langsung menyebar ke seluruh tubuh. Sebelumnya dengan dipompa terlebih dahulu lewat jantung kemudian disalurkan ke seluruh tubuh.

Bagaimana pula dengan ibu yang hamil tua? Bolehkah berpuasa? Sekali lagi berpulang pada kondisi kesehatan sang ibu. Bila kondisi fisiknya memungkinkan tak masalah sang ibu berpuasa. Yang patut diperhatikan adalah bahwa pada usia kehamilan lebih dari tujuh bulan biasanya janin memerlukan asupan makanan lebih banyak. Inilah yang menyebabkan si ibu hamil sering lemas. Cara mensiasatinya selain jangan dipaksakan apabila memang benar-benar tidak kuat, juga harus minum sebanyak-banyaknya sewaktu sahur dan berbuka puasa untuk menambah cairan dalam tubuh.

Apabila janin ada perubahan dari biasanya, misalnya geraknya menjadi sedikit atau bahkan tidak bergerak sama sekali, janganlah dipaksakan berpuasa. Pengaruhnya juga untuk sang ibu, kalau tidak kuat bisa hipoglikemi atau kadar gula menurun. Bila ini terjadi tentu kurang baik juga bagi janin.

Prinsipnya, kalori bagi ibu hamil yang berpuasa tidak boleh berkurang. Perlu makanan yang nilai kalorinya lebih tinggi dari biasanya. Makanan itu bisa didapat dengan menu makanan sehat diselingi makan buah-buahan. Dan untuk menambahnya bisa dengan minum es krim susu.

Begitu juga ibu menyusui sebenarnya bebas memilih untuk berpuasa atau tidak. Jika memilih tidak, kebanyakan beralasan bahwa puasa sebulan akan menurunkan produksi ASI. Seperti yang kita ketahui, ASI harus selalu lancar agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi sang bayi. Alasan lainnya, kegiatan menyusui yang menguras tenaga akan membuat ibu makin lemas dan tak kuat berpuasa. Maklumlah, beberapa saat setelah menyusui biasanya si ibu akan merasa lapar.

Semua kekhawatiran itu wajar saja adanya, tapi sebenarnya tak beralasan sama sekali. Secara klinis, kegiatan puasa hanya mengubah jadwal makan. Yang berubah hanya waktu makannya saja. Sementara asupan makanan yang dikonsumsi ibu menyusui selama berpuasa bisa dibuat sama dengan/saat tidak berpuasa, yaitu gizi seimbang dengan komposisi 50 persen karbohidrat, 30 persen protein, dan 10-20 persen lemak.

Manajemen Laktasi Ibu Menyusui Yang Sedang Berpuasa

Dengan perubahan jadwal makan, tidak berarti asupan makanan yang dikonsumsi ikut berubah. Yang penting, ibu menyusui tetap makan 3 kali sehari dan secara disiplin mengonsumsi makanan dengan gizi berimbang, yaitu dengan komposisi 50 persen karbohidrat, 30 persen protein dan 10-20 persen lemak.

Beberapa tips bagi ibu hamil dan menyusui yang ingin berpuasa adalah:

1. Asupan menu dengan gizi seimbang

Makan sahur dengan makanan yang bergizi, sangat penting bagi ibu hamil dan menyusui. Sebaiknya ibu hamil banyak mengonsumsi daging. Daging adalah makanan yang mengandung kalori dan protein sangat tinggi yang bisa disimpan tubuh dalam waktu lama.

Sedangkan ibu menyusui membutuhkan tambahan sekitar 700 kalori perhari, 500 kalori diambil dari makanan ibu dan 200 kalori diambil dari cadangan lemak dalam tubuh ibu. Oleh karena itu, penting bagi ibu menyusui yang sedang berpuasa untuk tetap mempertahankan pola makan 3 kali sehari dengan menu gizi seimbang. Pada saat sahur, ketika berbuka puasa dan menjelang tidur sesudah shalat tarawih. Makan sahur akan menghasilkan energi yang berguna untuk aktivitas kita hari itu. Komposisi makanan dengan gizi berimbang akan menghasilkan sari makanan yang bagus untuk anak.

2. Perbanyak konsumsi cairan, mulai dari berbuka hingga sahur

Jika bisa minum air putih selama sehari itu sebanyak dua liter, ditambah dengan jenis cairan lainnya seperti jus buah, teh manis hangat dan susu. Minum segelas susu setiap sahur bisa mengurangi ancaman anemia bagi ibu hamil dan menyusui. Anemia adalah berkurangnya kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Berbuka puasa dengan minum minuman hangat, akan merangsang kelancaran ASI bagi ibu menyusui.

3. Istirahat yang cukup

Merasa lemas saat berpuasa itu hal yang lumrah, apalagi jika si ibu baru saja menyusui. Cobalah untuk beristirahatlah sejenak, apakah dengan cara tidur atau sekadar relaks menenangkan pikiran. Perlu ibu menyusui ketahui, bahwa semakin sering payudara dihisap oleh bayi, maka produksi ASI akan semakin banyak. Jadi, bila selama puasa ibu tetap rajin menyusui, ASI akan tetap lancar.

Ibu Bekerja

Ibu bekerja yang memerah ASI di tempat kerjanya disarankan untuk tetap melakukan kegiatan memerah ASI seperti biasa dengan tetap memperhatikan tips-tips seperti yang sudah disebutkan di atas ini. Kembali berpegang pada prinsip demand and supply, semakin banyak ASI dikeluarkan maka semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Apabila ibu menyusui yang biasa memerah menghentikan kegiatan memerahnya selama bulan puasa, maka ASI yang diproduksi dapat berkurang, yang bukan disebabkan oleh kegiatan berpuasa tetapi karena mengurangi kegiatan memerah tadi.

Bagaimanapun, mendapatkan ASI adalah hak bayi. Jadi, hendaknya utamakan kepentingan bayi. Untuk ibu yang memiliki bayi di bawah 6 bulan, memang dianjurkan untuk tidak berpuasa karena bayi sedang dalam tahap ASI Eksklusif dan belum memperoleh makanan tambahan apapun kecuali ASI.

No comments: